Jumat, 24 Maret 2017

Djoko Susanto

 si Gila Kerja yang Visioner

Ubah BPN Jadi Nyaman dan Transparan

PELAYANAN Kantor Badan Pertanahan Nasional(BPN) Jember mengalami perubahan signifikan tiga tahun terakhir.Sebelumnya masyarakat yang datang merasa grogi karena berhadapan birokrasi(terkesan) berbelitKini hal itu tidak ada lagi.Semua sistem dan produser pelayanan dibuat Transparan,dan bisa diakses oleh Publik secara terbuka,kapan saja.

Sebelumnya mengurus sertifikat tanah memerlukan waktu berbulan-bulan,bahkan bisa tahunan.Kini hanya dalam hitungan minggu,bahkan hari.Malah dalam kasus tertentu,seorang yang mengurus sertifikat tanah bisa menunggu hanya dalam hitungan jam.Tentu saja,jika semua persyaratan administrasi sudah dipenuhi alias lengkap sesuai ketentuan.
Perubahan Signifikan itu tak lepas dari'tangan dingin'Djoko susanto,SH,MH,Kepala BPN Jember.Djoko sendiri baru diangkat menjadi kepala kantor BPBN Jember sejak tahun 2013 lalu.Dia kenal sebagai pemikir,sekaligus pekerja keras.Dia tertantang untuk terus membenahi pelayanan kantornya yang mungkin banyak dikeluhkan warga.

Menurut Djoko,seiring dengan dinamika tuntutan masyarakat terhadap suatu pelayanan,khususnya di kantor BPN,mau tidak mau harus ada perubahan mindset dan culture-set dilingkungan kerjanya.Jika tidak,masyarakat akan dirugikan.karena mereka juga harus berpacu dengan waktu dan tuntutan kepentingannya tak bisa disikapi dengan santai dan pasrah pada keadaan.


ketika ditemui di ruang kerjanya,Djoko serius memelototi komputer jumbo yang dipasang tak jauh dari tempat duduknya."Saya selalu memonitor di meja mana proses lambat atau macet,"ujarnya.

Dengan sistem tersebut,kata Djoko,Masyarakat yang mengurus sertifikat di kantornya,bisa ikut'mengontrol'proses perjalanan berkas di setiap meja.Bahkan,melalui website BPN Jember,masyarakat juga bisa melihat perjalanan berkas,apakah terus berjalan atau berhenti.malah,masyarakat bisa mengomplain,mengkritik,memberi masukan,tentang masalah-masalah yang menyangkut BPN Jember.Djoko juga menggandeng BRI Jember untuk pemberdayaan masyarakat(Nelayan)Puger.Warga Puger yang memiliki tanah belum bersertifikat,diupayakan segera bersertifikat,Sertifikat itu digunakan meminjam uang ke BRI untuk modal usaha.Ini sesuai dengan misi UU Agraria bahwa tanah merupakan salah satu model pembangunan.

Djoko juga melakukan terobosan baru berupa layanan SAKTI(Singkat,akurat,dan Teliti).Gagasan ini diilhami dinamika kebutuhan masyarakat.alur pengurusannya bisa diperpendek berdampak pada kecepatan.akurat,artinya mengurus sertifikat tanahnya perlu data yang benar.Dalam kaitan ini,pihak BPN menyiapkan data pembanding berupa data base yang disimpan rapi.Baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy(scan)setiap sertifikat yang keluar.

"Kami sudah mempunyai 20 ribuan data sertifikat yang keluar,"imbuh Joko.Sedangkan teliti,masyarakat juga diminta keterlibatannya untuk ikut meneliti setiap sertifikat yang ada.Demikian dua belah pihak PPAT maupun notaris juga diminta tidak asal membuat akta,sebelum benar-benar dicek keabsahannya.

"Jadi,harus sama-sama berkolaborasi dala urusan sertifikat tanah,"jelasnya.Sukses dengan program SAKTI-nya,Djoko kembali membuat gebrakan baru.Yakni,mengatasi masalah kemiskinan struktural melalui model Reforma Agraria Perkotaan,yang selama ini belum sempat terpikirkan oleh berbagai pihak.

Untuk memperlancar gagasannya itu,Djoko melakukan MoU(Nota Kesepahaman)Dengan Bupati Jember Faida dan Bank Jatim Jember.isinya,pengurusan sertipikat tanah secara gratis bagi masyarakat miskin;pemberian fasilitas perbankan secara mudah,membangun usaha kecil menengah,serta pendampingan masyarakat miskin dalam pengurusan berkas sampai dengan kegiatannya usahanya.

Tak tanggung-tanggung,penandatanganan MoU disaksikan langsung oleh Mentri Sosial(Mensos)HJ Kholifah Indar Parawansa di Alun-Alun Jember beberapa waktu lalu.Mensos kholifah mengapresiasi inisiatif brilian kepala BPN Jember itu pada tahap awal,BPN telah menerbitkan sedikitnya 1.510 sertifikat gratis,di luar program nasional(Prona)yang kini mencapai 10.000-an di Jember.Menurut Djoko,model Reforma agraria perkotaan yang digagasnya sebagai upaya memutus kemiskinan struktural perkotaan di Jember.Ketika semua warga miskin memiliki bukti kepemilikan tanah sah,sertifikat tanah bisa diagunkan ke bank untuk modal usaha kecil menengah."Ini mirip yang dilakukan terhadap warga Puger,dengan Menggandeng BRI,"jelasnya.

Dalam program tersebut,pihaknya siap menggratiskan biaya administrasi sertifikat tanah bagi warga miskin.
Dimana selama ini dinggap momok yang memberatkan.Bukan hanya itu,program sertifikat tanah gratis juga menjamin keamanan aset warga."Pemkab akan melakukan inventarisasi data dan pemberkasan masyarkat miskin dalam rangka sertifikasi dan akses perbankan.Kami yang melakukan pemrosesan sertifikat tanahnya,"tandasnya.Dengan semangat kolaborasi produktif pihak kantor BPN dengan Pemkab Jember,semua warga miskin yang memiliki aset tanah,namun belum disertifikatkan,diharapkan bisa tercover maksimal.Targetnya,dalam satuan,terjadi penurunan kemiskinan sturuktural hingga 10 persen.

Djoko juga menggagas program membangun 1.001 rumah per tahun dengan menggandeng REI(Real Esate Indonesia),dan perbankan.Dalam hal ini,BPN mengurus sertifikat tanah,RE membuat rumah,dan pihak bank menyediakan pinjaman dana.Untuk merealisasikan program itu,kata Djoko,masing-masing pihak tak perlu topangan dan APBN/ApBD,namun murni kolaborasi antar pihak terkait.

Yang jelas,lanjut pria kelahiran Kediri,semua gagasannya itu sudah dirasakan hasilnya,Baik Masyarakat maupun intansi terkait.antara lain,tiga tahun ini BRI Mampu menambah sedikitnya 3.000 nasabah baru,produktivitas kerja naik 300 persen.Pendapatan daerah dari sektor pertanahan naik dari Rp 11 miliar (2012) menjadi Rp 20 miliar(2015).Sementara nilai investasi di Jember naik dari Rp 1 triliun (2012) menjadi Rp 6,4 triliun(2015).

Tak heran,selama tiga tahun menjabat kepala BPN Jember,Djoko mendapat berbagai penghargaan baik dari pusat maupun regional.(sh/ram)

 Sedikit Bicara, Banyak Karya

DI lingkungan, Djoko Susanto memang dikenal sosok pendiam, namun familiar. Pergaulannya luas dengan berbagai kalangan, baik kelas elife maupun wong alit. Itu bisa dilihat dari seabrek penghargaan yang diterima dari berbagai institusi. Dia juga dikenal sering memberi sedekah kepada orang-orang kecil, baik di lingkungan kantor BPN maupun di tempat lain.

Ayah tiga anak kelahiran Lirboyo, Kediri, 23 Maret 1960 ini, tak menyangka bisa menduduki posisi puncak di kantor BPN tingkat Kabupaten/ kota. Sebab, jabatan itu biasanya disandang oleh pimpinan yang berangkat dari pendidikan khusus. Ibaratnya Kapolres atau Komandan Dandim harus melalui pendidikan Akpol atau AKABRI. Sementara Djoko berangkat dari ijazah SMP, dengan golongan 1 B di awal karirnya pada 1983.

Jika lewat jalur reguler, jabatan Djoko itu harus menunggu waktu sekitar 40 tahun. Namun berkat kinerjanya yang bagus, anak kedua dari tiga bersaudara ini, cukup membutuhkan waktu belasan tahun. Bahkan, teman seangkatannya hingga kini belum ada yang menjadi Kepala BPN. "Ini mungkin takdir saya," ujarnya.

Sesuai lulus dari SMAN2 Kediri (1979), Djoko sebenarnya ingin melanjutkan ke UI Jakarta atau UGM Jogjakarta. Namun karena terbentur biaya, dia hanya bisa pasrah kerja apa adanya. Termasuk pernah menjadi kondektur Bus Hasti jurusan Kediri-Solo, Surabaya. Juga berjualan di pasar membantu ibunya. "Melamar dimana-mana tidak diterima," ucapnya. Akhirnya Djoko dengan ijazah SMP melamar di kantor Agraria Jember pada 1983 sebagai juru ukur dengan pangkat golongan 1 b.

Cita-cita kuliahnya baru kesampaian ketika 14 tahun menjadi PNS. Yakni meraih sarjana (S1) di Universitas Muhammadiyah. Beberapa tahun kemudian melanjutkan ke S2 di Unej. Bahkan kini Djoko sedang menyelesaikan program doktornya di Unej, bidang hukum.

Selama bekerja di BPN, putra Seger Soepardi, seorang sersan TNI yang meninggal saat Djoko masih SMP itu, pernah menduduki jabatan Kasubsi Pendaftaran dan Inforasi (Banyuwangi), Kasi HTPT (Pamekasan dan Jember), Kepala Kantor BPN (Kutai Kertanegara), dan Kepala BPN Jember (20013) hingga sekarang. Sedangkan pendidikan khusus ke- Agraria-an antara lain, Kursus Juru Ukur (Depdagri), Land Record Managemen (Jakarta), Kursus pengatur UKur (BPN Jatim), SPIP (BPN Malang).

Selain kinerjanya yang bagus, diakui perjalanan karirnya tak lepas dari doa sang ibu, Soejatmi. Betapa tidak, setelah menjanda, sang ibu rela membesarkan tiga anaknya dengan berjualan kerupuk di pasar. "Ibu saya kadang tidur di emperan toko, demi membesarkan anak-anaknya," tutur Djoko.

Karena itu, meski sudah menjadi PNS, Djoko tak malu berjualan dengan (kelapa muda) yang dititipkan ke kios-kios penjual es di Jember. Dia juga pernah mencoba usaha properti di belakang TMP Patrang, namun kurang berhasil gara-gara kriris moneter tahun 1998. "Semua itu ada hikmahnya. Minimal belajar sabar dan berpengalaman," tuturnya lagi.

Kedekatannya dengan orang kecil juga tak diragukan. Terbikti, setiap bulan Suci Ramadan, kantornya menyediakan buka gratis bagi warga miskin. Termasuk menyediakan bingkisan bagi para yatim piatu yang dikemas dalam buka bersama. Bahkan ketika bertugas di Banyuwangi, Djoko selalu menyiapkan uang ribuan untuk berikan kepada para peminta-minta di sepanjang Gunung Gumiter, dalam perjalanan pulang keJember setiap hari.

Yang menarik lagi dari sosol low profile itu, dia mengaku tak memiliki hobi khusus, kecuali bekerja. "Jadi, hobi saya memang bekerja dan berfikir untuk pekerjaan," jelasnya. Tak heran, dari hobi kerjanya itu banyak ide brilian dan inovasi kreatif yang dihasilkan oleh warga Perum Muktisari Jember itu. Tak heran pula jika dia kerasan di kantornya, hingga tak jarang pulang larut malam.

Bagi pria yang kerap diajak diskusi oleh orang-orang Kpk Jakarta, dan selalu di undang ikut upacara 17 Agustus di Istana jakarta itu, perajalanan hidup bak air mengalir. Manusia hanya wajib Iktiar, sedangkan hasilnya urusan Yang di Atas. Dia menjelaskan bahwa kunci sukses adalah istiqomah (konsisten), banyak teman, memaksimalkan ikhitiar, dan doa orang tua. Selain itu, lanjut Djoko, perbanyaklah sedekah dalam kondisi apapun, dan berbuat baik kepada sesama. Karena suatu saat pasti akan memetik buahnya. (sh/ram).



 Publikasi Absen Online

UNTUK menyulap suasana kantor dan kinerja karyawan, Djoko mengakui tidak mudah. Sebab, mind-set dan culture-set tak bia diubah dalam semalam. Dia harus bersabar memberi bimbingan, pengertian, doktrin, hingga teladan yang konsisten. Dia mengakui tak semua karyawannya setuju atas gagasan yang dibangunnya, karena dianggap sulit, ruwet, menambah pekerjaan, dan bisa mengurangi 'pendapatan' bagi yang biasa 'bermain-main'

Namun itu dianggap hal biasa dalam instansi mana pun. Karena itu, Djoko mulai merancang visi-misi yang dianggap cocok dan sesuai dengan kondisi lokal Jember. Konsekuensinya, dia harus menyiapkan perangkat yang diperlukan, khususnya membangun sistem informasi, dan tata ruang kantor yang nyaman dan representati. Tuuannya untuk mendukung produktivitas kerja, serta terciptanya transparansi pelayanan publik.

Menurut Djoko, BPN Jember mungkin satu-satunya instansi pemerintah yang mempublikasikan kehadiran (absensi) pegawainya secara online. Dia yakin dengan cara itu disiplin pegawai yang tercermin melalui kehadirannya di tempat kerja merupakan ukuran sederhana, yang paing mudah dipahami oleh masyarakat perihal kinerja pegawai. Dengan sistem itu pula, kata Djoko, akan diketahui mana pula yang malas bekerja. Mereka akan langsung bisa dipantau oleh publik, sehingga akan menjadi support atau sebaiknya menjadi beban psikologis bagi dirinya.

Untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia (SDM) dan kompetensinya, Djoko juga kerap melakukan berbagai dikiat, dan change menagement yang meliputi leadership (kepemimpinan), awareness (kesadaran kolektif, dan accountability system (sistem yang baik). Materinya antara lain menyangkut membangun visi, misi personal, kekuatan hati, kekuatan   memanfaatkan, melayani dengan hati, membangun kualitas teamwork, dan lain-lain.

Agar pegawai memahami dan selalu ingat akan tugas dan tanggung jawabnya, kata Djoko, setiap apel mingguan wajib mem,bacakan janji pegawai. Isinya, memberi pelayanan dengan sepenuh hati seikhlas murani, menciptakan suasana pelayanan yang aman, bersih, sejuk, indah, nyaman, dan asri. Selain itu, pegawai harus berjanji melayani dengan senyum, sopan, santun, sigap, dan selesai. Juga memberi informasi layanan secara tepat, transparan, dan tuntas.

Selain itu, setiap pegawai juga harus menyajikan data yang akurat, valid, dan aktual. Juga harus mengakomodir keluhan, saran, dan kritik. Seangkan motto yang selalu digaungkan adalah "Ceria", yang bekerja secara cepat, efektif, efisien, responsif, ikhlas, dan akuntable. (sh/ram)




Sumber : RADAR JEMBER, Minggu 10 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar